Tesla Reset Strategi: Penjualan Lesu di India, Namun Optimisme Robotaxi Kerek Saham

Tesla kini tampaknya sedang bermain di dua arena yang kontras. Di satu sisi, raksasa kendaraan listrik (EV) ini baru saja meresmikan pusat penjualan dan layanan terbesarnya di India, sebuah langkah berani di tengah lesunya angka penjualan di negara ekonomi terbesar ketiga di Asia tersebut. Di sisi lain, pergerakan saham perusahaan justru menunjukkan tren positif, bukan karena penjualan mobil fisik, melainkan berkat janji ekspansi armada Robotaxi di Amerika Serikat yang didengungkan oleh Elon Musk.

Tantangan Berat di Pasar India

Pusat layanan baru yang terletak di kota Gurugram, India utara, hadir dengan konsep terintegrasi yang menggabungkan ruang pamer, fasilitas pengisian daya, dan layanan purna jual dalam satu atap. Namun, kemegahan fasilitas ini berbanding terbalik dengan data di lapangan. Sejak debutnya yang ramai dibicarakan pada Juli lalu, data dealer menunjukkan Tesla hanya berhasil menjual sedikit di atas 100 unit mobil. Padahal, laporan media sempat mencatat adanya pemesanan (booking) mencapai sekitar 600 unit hingga pertengahan September.

Konversi dari pemesanan ke penjualan nyata terbilang sangat rendah. Situasi ini kontras dengan kompetitor di kategori premium seperti BMW, BYD, dan Mercedes Benz yang justru melaporkan penjualan yang kuat, didorong oleh permintaan musiman dan pemotongan pajak. Para ahli menilai tingginya pajak dan adopsi EV yang lambat menjadi penghalang utama di India. Bagi Tesla, harga awal mobil yang curam menjadi tantangan tambahan yang signifikan.

Fokus pada Ekosistem dan Efisiensi Biaya

Sumber yang dekat dengan perusahaan menyebutkan kepada BBC bahwa Tesla kini mengubah fokusnya untuk memperkuat ekosistem EV di India demi memulihkan momentum penjualan. Strategi ini mencakup peningkatan adopsi, instalasi lebih banyak stasiun pengisian daya, dan peningkatan pengalaman pelanggan. Saat ini, infrastruktur pengisian daya di India memang masih tertinggal, dengan hanya sekitar 25.000 stasiun di seluruh negeri.

Dalam peluncuran di Gurugram, Kepala Tesla India, Sharad Agarwal, mencoba meyakinkan pasar dengan argumen efisiensi biaya. Ia mengklaim pembeli dapat menghemat hingga dua juta rupee (sekitar $22.400) selama empat tahun untuk biaya bahan bakar dan perawatan—hampir sepertiga dari harga Model Y yang dijual di sana. “Sebagian besar layanan perawatan dilakukan jarak jauh melalui pembaruan perangkat lunak yang mengurangi biaya kepemilikan. Selain itu, biaya pengisian daya di rumah hanya sepersepuluh dari harga bensin,” ujar Agarwal.

Paradoks Kinerja Finansial dan Janji AI

Hormazd Sorabjee, editor Autocar India, menilai angka penjualan Tesla memang rendah menurut standar apa pun, namun ia melihat ini sebagai langkah strategis jangka panjang bagi Tesla untuk mulai menancapkan kuku di pasar India. Menariknya, kelesuan penjualan ini sebenarnya mencerminkan perlambatan permintaan yang lebih luas di pasar utama Tesla lainnya seperti Eropa, Tiongkok, dan Amerika Serikat. Perusahaan diperkirakan akan mengirimkan kurang dari 1,7 juta mobil pada tahun 2025, turun dari pencapaian 1,8 juta unit pada 2024, dengan estimasi laba per saham yang juga menurun.

Kendati menghadapi penurunan pada bisnis inti penjualan mobil, saham Tesla (TSLA) justru naik 1,7% menjadi ditutup pada level $426,58 pada perdagangan Rabu lalu. Kenaikan ini turut mengerek indeks S&P 500 dan Dow Jones. Sentimen positif ini muncul setelah Elon Musk mencuit bahwa armada Robotaxi Tesla di Austin, Texas, akan “meningkat dua kali lipat bulan depan”.

Taruhan Masa Depan pada Otonomi

Investor kini tampaknya lebih memandang Tesla sebagai perusahaan kecerdasan buatan (AI), Robotaxi, dan robotika ketimbang sekadar produsen mobil listrik. Layanan Robotaxi yang diluncurkan terbatas di Austin pada bulan Juni lalu terus diperluas wilayah operasinya. Meskipun realisasinya sedikit lebih lambat dari ambisi awal Musk yang ingin mencakup setengah populasi AS pada akhir tahun, perluasan armada ini cukup untuk memuaskan pasar saham.

Namun, jalan menuju otonomi penuh masih panjang. Analis dari Melius Research, Connor Cunningham, mencatat bahwa pesaing Tesla, Waymo milik Alphabet, sudah mendekati cakupan 10% populasi AS dan mengoperasikan kendaraan komersial tanpa pengemudi sama sekali di kursi depan. Sebaliknya, Robotaxi Tesla masih menempatkan pengawas keselamatan manusia di dalam kendaraan. Meski demikian, para pemegang saham tetap optimis bahwa aplikasi AI ini akan membuka era baru pertumbuhan laba bagi perusahaan di masa depan, menutupi tantangan penjualan fisik yang sedang dihadapi saat ini.